Pada bab sebelumnya telah dijelaskan definisi ilmu qira’at, sejarah perkembangannya, syarat-syarat sahnya sebuah qira’at, macam-macam qira’at dan lain sebagainya. Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang kehidupan para imam qira’at sepuluh berikut para periwayat mereka. Hal ini harus diketahui secara mendalam oleh setiap orang yang berkecimpung dalam keilmuan ini.
Para imam tersebut adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan qira’at Al-Qur’an, mendedikasikan hidupnya untuk Al-Qur’an dan menjadi tempat bertanya umat pada zamannya tentang Al-Qur’an. Pribadi- pribadi mereka adalah pribadi yang jujur, taat dalam beragama, memiliki ilmu yang sangat mendalam dalam bidang agama sehingga layak untuk dijadikan teladan bagi generasi muslim sesudah mereka.
1. Imam Nafi’
Nama dan nasabnya. Beliau adalah Abdurrahman al-Laitsi al-Madani. Beliau adalah imam penduduk Madinah dalam membaca Al-Qur’an dan termasuk salah satu dari imam qira’at tujuh. Beliau berasal dari Isfahan. (Isfahan atau Esfahan. Pada masa lampau juga ditulis sebagai Ispahan, bahasa Persia Kuna Aspadana, adalah sebuah kota yang terletak di wilayah Iran sekarang. Posisinya terletak sekitar 340 km selatan kota Teheran). Kulit beliau berwarna hitam, wajah beliau cerah dan berseri dan memiliki akhlak yang sangat mulia.
Guru-guru beliau: Imam Nafi’ membaca dan belajar AlQur’an kepada sejumlah Tabi’ in yang berdiam di kota Madinah. Antara lain adalah: Abdurrahman bin Hurmuz alA’rah, Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa’, Syaibah bin Nashah, Yazid bin Ruman, Muslim bin Jundub, Shalih bin Khawwat, al-Asbagh bin Abdul Aziz al-Nahwi, Abdurrahman bin Qasmi bin Muhammad bin Abi Bakar Shiddiq dan al-Zuhri. Bahkan Imam Nafi’ sendiri pernah berkata: Aku belajar AlQur’an kepada tujuh puluh (70) orang Tabi’in.
Murid- murid Imam Nafi’: Banyak pelajar muslim yang belajar Al-Qur’an kepada Imam Nafi’ yang datang dari berbagai wilayah Islam pada masa itu. Mereka itu antara lain adalah: Ismail bin Ja’far, Isa bin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz, Malik bin Anas, Ya’qub bin Ja’far, Abdurrahman bin Abi al-Zanad, Isa bin Mina (Qalun), Sa’ad bin Ibrahim dan saudaranya yang bernama Ya’qub, Muhammad bin Umar al-Waqidi, Al-Zubair bin Amir, Khalaf bin Waddah, Abu al-Zikr Muhammad bin Yahya, Abu al-Ijlan, Abu Ghassan Muhammad bin Yahya bin Ali, Shafwan, Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim bin Wahb yang semuanya merupakan penduduk kota Madinah. Kemudian Musa bin Thariq, Abu Qurrah alYamani, Abdul Malik bin Qarib al-Ashma’i, Khalid bin Makhlad al-Khatwani, Abu Amru bin al-Ala’ Abu al-Rabi’ alZahrani, Kharijah bin Mush’ab al-Khurasani, Khalad bin Nazal al-Aslami, Saqlab bin Syaibah, Utsman bin Said (Warsy) Abdullah bin Wahb, Muhammad bin Abdullah bin Wahb, Ma’la bin Dahiyyah, al-Laits bin Sa’ad, Asyhab bin Abdul Aziz. Hamid bin Salamah, yang semuanya berasal dari Mesir.
Kemudian Utbah bin Hammad al-Syami, Abu Mushar al-Dimasyqi, al-Walid bin Muslim, ‘Arrak bin Khalid, Khuwailid bin Mi’dan yang semuanya berasal dari wilayah Syam. Kemudian Kardam al-Maghribi, Abu al-Harits,
Abdullah bin Idris al-Audi, al-Ghaz bin Qais al-Andalusi, Abu Bakr al-Qowrisi, dan Muhammad al-Qowrisi.
Imam Nafi’ mengajarkan Al-Qur’an dalam waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 70 tahun, sehingga beliau dianggap sebagai tokoh qira’at terpenting pada masanya di kota Madinah. Abu Ubaid berkata: para penduduk kita Madinah membaca Al-Qur’an dengan qira’at Nafi’. Mereka berpegang teguh kepada qira’at tersebut sampai hari ini.
Imam Ibnu Mujahid berkata: Nafi’ adalah orang yang berjasa mengembangkan bacaan Al-Qur’an di kota Madinah sesudah masa para Tabi’in. beliau adalah orang yang sangat faham dengan berbagai bentuk bacaan alQur’an, dan selalu mengikuti jejak dari para pendahulunya.
Malik bin Anas berkata: Bacaan penduduk Madinah adalah sunnah. Lalu seseorang betanya: Apakah itu qira’at Imam Nafi’. Malik menjawab: Ya, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku bertanya kepada ayahku tentang qira’at apakah yang paling engkau sukai? Maka beliau menjawab: qira’at penduduk kita Madinah. Aku bertanya lagi: Bila tidak? Ayahku menjawab: qira’at Imam ‘Ashim.
Sifat-sifat Pribadi dan Pujian Ulama kepada Imam Nafi’
Imam Nafi’ bila berbicara akan terciumlah bau harum dari mulutnya. Maka beberapa orang bertanya kepada beliau, apakah selalu menggunakan minyak wangi jika ingin mengajarkan Al-Qur’an kepada umat? Imam Nafi’ menjawab: Aku tidak pernah menyentuh minyak wangi. Akan tetapi hal itu disebabkan oleh mimpiku, di mana aku bertemu dengan Rasulullah Saw yang membacakan AlQur’an dimulutku. Sejak saat itu selalu keluar dari mulutku bau harum setiap berbicara dan membaca Al-Qur’an.
Imam al-Musibi berkata: seseorang bertanya kepada Nafi’ mengapa wajah dan akhlakmu sangat baik? Imam Nafi’ menjawab: bagaimana tidak, karena Rasulullah telah menjabat tanganku dan membacakan Al-Qur’an kepadaku di dalam mimpi.
Sedangkan Imam Qalun berkata: Imam Nafi’ adalah orang yang paling bersih akhlaknya dan paling baik bacaan Al-Qur’an-nya. Beliau adalah orang yang sangat zuhud, dan shalat di masjid Nabawi selama 60 tahun. Imam al-Laits bin Sa’ad berkata: Aku melaksanakan ibadah haji pada tahun 113 H, sedangkan orang yang mengajarkan Al-Qur’an di Madinah pada masa itu adalah Nafi’ Imam al-A’syi berkata: Imam Nafi’ selalu memberikan kemudahan kepada orang yang belajar Al-Qur’an kepadanya, walaupun hanya sekedar berkata: aku ingin mempelajari qira’atmu.
Imam Nafi’ sendiri berkata: Aku membaca Al-Qur’an dalam keadaan duduk. Lalu datanglah ’Aun bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud lalu berkata: Wahai anak saudaraku, kapan engkau akan membaca Al-Qur’an dengan berdiri? Apakah kalau sudah besar atau jika sudah sakit? Maka Nafi’ menjawab: setelah itu aku tidak lagi membaca Al-Qur’an dalam posisi duduk kecuali hanya aku membayangkan hal itu di pelupuk mataku.
Imam Nafi’ dianggap oleh Yahya bin Main sebagai imam yang tsiqah. Imam al Nasa’i dan Abu Hatim juga mengatakan hal yang sama. Adapun Imam Ahmad menganggapnya layyin dan hadisnya sangat sedikit dan hadis beliau tidak ada dalam kutub al sittah.
Ketika Imam Nafi’ akan meninggal dunia, anak- anak beliau berkata kepadanya: wahai ayah, berikan kami wasiyat. Imam Nafi’ kemudian berkata dengan membaca ayat Al-Qur’an: ittaqu Allah wa ashlihu zata bainikum wa athi’ulaha warasulahu in kuntum mu’minin. Imam Nafi’ wafat pada tahun 169 H dan ada pula yang mengatakan tahun 170 H.
2. Imam Ibnu Katsir
Nama dan nasabnya: beliau adalah Abdullah bin Katsir Abu Ma’bad al-Makki al-Dari. Terhadap nisbah ini ada beberapa pendapat: ada yang berpendapat bahwa beliau adalah athar. Ini adalah istilah yang diberikan kepada kabilah al-Dar yang berasal dari wilayah Bahrain. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau adalah dari Bani al-Dar. Ada juga yang mengatakan beliau dinisbahkan kepada sebutan itu karena jarang sekali meninggalkan rumah untuk mencari penghidupan. Menurut kami yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang pertama.
Imam Ibnu Katsir lahir di Mekkah pada tahun 45 H, dan telah bertemu dengan beberapa orang sahabat Nabi antara lain: Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub al-Anshari, dan Anas bin Malik. Beliau juga bertemu dengan para pembesar Tabi’in antara lain Mujahid bin Jabr, dan Dirbas Maula Ibnu Abbas. Ibnu Katsir juga meriwayatkan dari para sahabat dan Tabi’in tersebut. Imam Ibnu Katsir mempelajari Al-Qur’an secara langsung kepada Abdullah bin Saib, Mujahid bin Jabr dan Dhirbas.
Sedangkan murid beliau sangat banyak, antara lain Ismail bin Abdullah al-Qist, Ismail bin Muslim, Jarir bin Hazim, al-Harits bin Qudamah, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Khalid bin al Qasim, al-Khalil bin Ahmad, Sulaiman bin al-Mughirah, Syibl bin Ibad, anaknya sendiri yang bernama Shadaqah bin Abdullah bin Katsir, Thalhah bin Amru, Abdullah bin Zaid bin Yazid, Abdul Malik bin Juraiz, Ali bin al-Hakam, Isa bin Umar al-Tsaqafi, al Qasim bin Abdul Wahid, Qaz’ah bin Suwaid, Qurrah bin Khalid, Mathruf bin Ma’qil, Ma’ruf bin Misykan, Harun bin Musa, Wahb bin Zam’ah, Ya’la bin Hakim, Ibnu Abi Fadik, Ibnu Abi Mulaikah, Sufyan bin Uyaynah, al-Rihal dan Abu Amru bin al-‘Ala.
Imam Ibnu Katsir adalah orang yang memiliki lidah yang fasih, dan mempunyai struktur kata yang bagus dan indah bila berbicara, orangnya tenang dan penuh kharisma, sangat menguasai bahasa Arab, dan beliau adalah imam dalam bidang al-Qur’an di kota Mekkah pada zamannya. Tubuh beliau cukup tinggi dan berbadan, mata beliau berwarna coklat, jenggotnya berwarna putih dan seringkali beliau mewarnainya dengan daun inai.
Imam al Ashma’i berkata: Aku bertanya kepada Abu Amru al-Bashri: Apakah engkau membaca Al-Qur’an kepada Ibnu Katsir? Ia menjawab: ya, aku mengkhatamkan Al-Qur’an beberapa kali di hadapan beliau sesudah aku mengkhatamkannya di depan Imam Mujahid. Dan Ibnu Katsir lebih menguasai bahasa Arab dari Mujahid.
Imam Ibnu Katsir wafat pada tahun 120 H di kota Mekkah. Imam Sufyan al-Tsauri berkata: aku menghadiri pemakaman jenazah Ibnu Katsir al-Dari pada tahun 120 H.
3. Imam Abu Amru
Nama lengkap beliau adalah Zaban bin al-‘Ala bin alUryan bin Abdullah al-Tamimial Mazini al-Bashri Abu Amru. Beliau adalah salah satu imam qira’at sab’ah yang sangat masyhur itu. Imam Abu Amru lahir di kota Mekkah, Madinah, Kuffah dan Basrah, dan bertemu serta berguru kepada banyak ulama dan syaikh dan sempat mendengarkan bacaan Al-Qur’an beberapa orang sahabat Nabi seperti Anas bin Malik. Beliau juga belajar Al-Qur’an dari Imam Hasan al-Bashri, Hamid bin Qois al-‘Araj, Abu al-Aliyah alRiyahi, Said bin Jabir, Syaibah bin Nashoh, ‘Ashim bin Abi al-Najud, Abdullah bin Abi Ishaq al Hadhrami dan imam Ibnu Katsir al-Makki.
Perhatian beliau sangat besar terhadap ilmu pengetahuan sehingga beliau tidak pernah bosan dan terus berguru kepada para ulama sehingga diriwayatkan bahwa buku dan catatan ilmu beliau memenuhi seluruh bagian rumah yang beliau diami sampai ke atap rumah. Beliau sangat tekun dalam melakukan kajian dan pembahasan terhadap berbagai macam ilmu pengetahuan apalagi jika berkaitan dengan ilmu qira’at, bahasa Arab, syair-syair Arab sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu al-Jazari: suatu ketika Imam al-Hasan menghadiri majelis ilmu Abu Amru di mana beliau betapa ramainya manusia menghadiri majelis ilmu tersebut. Maka al-Hasan berkata: Lailahaillallah. Hampir saja seorang ulama menjadi seorang rahib (pendeta), setiap kemuliaan yang tidak sejalan dengan ilmu maka akan membawa kepada kehinaan.
Imam Abu Amru membacakan dan mengajarkan AlQur’an kepada manusia di masjid agung kota Basrah. Dan setiap datangnya bulan Ramadhan hampir dipastikan beliau tidak akan pulang ke rumah, karena menyibukkan diri dengan ilmu, qira’at dan pengajaran Al-Qur’an serta penghormatan beliau terhadap keagungan bulan Ramadhan.
Para ulama memuji kepribadian Imam Abu Amru karena keutamaan dan kedalaman ilmu beliau sehingga layak ditempatkan sebagai orang yang mulia. Di antara pujian ulama adalah apa yang disampaikan oleh Imam Abu Ubaidah: Imam Abu Amru adalah orang yang paling memahami ilmu qira’at dan bahasa Arab, sejarah bangsa Arab dan syair-syair mereka. Sedangkan Yunus bin Habib berkata: jika seseorang ingin menemukan dan mengambil nilai yang berharga dari setiap perkataan, maka hal itu hendaklah ia ambil dari perkataan Imam Abu Amru bin alAla.
Imam al Ashma’i berkata: aku tidak menemukan orang setelah Abu Amru yang lebih berilmu dari padanya. Imam Abu Amru mengetahui kapasitas pribadinya dan mengetahui kedudukannya terhadap ilmu dan pengetahuan. Oleh sebab itu beliau pernah berkata: aku tidak menemukan orang yang lebih berilmu dari padaku sebelum ini. Beliau juga pernah berkata kepada Imam al-Ashama’i: seandainya aku bisa memindahkan apa yang ada di dalam dadaku ke dalam dadamu maka akan aku lakukan. Sesungguhnya aku telah menghafal ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an yang jika seandainya aku tuliskan dalam bentuk buku, niscaya al-A’masy tidak akan sanggup membawanya.
Perkataan ini menunjukkan begitu kuatnya keinginan Abu Amru untuk mengajarkan ilmu yang beliau miliki dan menyebarluarkan ke tengah-tengah umat. Hal ini juga menunjukkan betapa kuatnya keinginan beliau dalam periwayatan Al-Qur’an di mana beliau tidak akan membaca yang tidak pernah dibacakan kepada beliau, karena AlQur’an merupakan sunnah yang harus diikuti. Sebuah qira’at Al-Qur’an tidak boleh diikuti meskipun secara bahasa benar, namun salah dalam prinsip-prinsip dasar periwayatan.
Imam Abu Amru mengamalkan apa yang beliau ketahui. Beliau adalah orang yang bertakwa dan sangat zuhud dalam hidupnya, selalu merasa bersama Allah dan sangat takut kepada- Nya. Beliau selalu menjaga konsistensi dalam mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga malam. Perkara yang berat seperti ini tidak akan dilaksanakan kecuali oleh seorang yang berkualitas dan memiliki kemampuan di atas rata- rata.
Selain itu beliau juga mempunyai karomah sebagaimana yang diceritakan oleh murid beliau yang bernama Abdul Warits: suatu waktu aku melaksanakan ibadah haji dengan Imam Abu Amru al-Ala. Maka kami melewati beberapa rumah dalam perjalanan itu. Maka Imam Abu Amru berkata: berdirilah bersama kami. Maka aku berjalan bersama beliau, sampai disebuah tikungan beliau menyuruhku untuk duduk. Beliau berkata: jangan pergi sampai aku mendatangimu. Di situ ada sebuah rumah yang tidak ada air sama sekali di dalamnya. Maka aku menunggunya beberapa lama dengan sabar. Namun kemudian aku ikuti jejak kakinya sampai kepada sebuah tempat yang tidak ada air di situ. Namun aku menyaksikan beliau sedang berwudhu’ di sebuah mata air untuk melaksanakan shalat. Lalu beliau menoleh kepadaku dan berkata: wahai Abdul Warits, simpan peristiwa ini dan jangan sampaikan kepada siapapun apa yang telah engkau saksikan tadi. Lalu aku berkata: baik tuan. Lalu Abdul Warits berkata: Demi Allah aku tidak pernah menyampaikan hal itu kepada siapa pun sampai wafatnya Imam Abu Amru sebagai seorang wali dari wali-wali Allah dan betapa dekatnya kedudukan beliau dengan Allah Swt, di mana Allah telah memancarkan mata air untuk beliau dari tanah yang gersang untuk berwudhu’ dan minum. Namun meskipun memiliki kemampuan seperti itu, namun beliau tidak ingin berbangga dan menjadi sombong dengan hal tersebut, sehingga tidak ingin orang lain mengetahui rahasia antara dirinya dengan Allah Swt.
Dengan kedudukan yang tinggi dari segi ilmu, zuhud dan kejujurannya, maka beliau sangat diterima oleh umat pada zamannya di mana mereka belajar Al-Qur’an kepada beliau. Hal ini disampaikan oleh Imam Syu’bah bahwa qira’at Imam Abu Amru adalah qira’at yang dijadikan sandaran oleh umat pada masa itu. Wahb bin Jarir berkata: Syu’bah berkata kepadaku, berpeganglah kepada qira’at Abu Amru karena ada sanadnya di tengah- tengah manusia.
Imam Ibnu al-Jazari berkata: benar apa yang dikatakan oleh Syu’bah tersebut. Qira’at yang dianut dan dipakai oleh penduduk Syam, Hijaz, Yaman dan Mesir pada hari ini adalah qira’at Abu Amru. Hampir tidak ditemukan seorang penduduk membaca Al-Qur’an kecuali dengan huruf Abu Amru khususnya dalam bidang farsy, meskipun banyak kesalahan dalam bidang ushul. Penduduk Syam telah membaca Al-Qur’an selama ini dengan qira’at Imam Ibnu Amir sampai tahun 500-an hijriyyah, lalu mereka meninggalkannya setelah datangnya beberapa orang penduduk Irak di mana mereka membacakan Al-Qur’an di Masjid Jami’ Umawi dengan bacaan Abu Amru. Lalu masyhurlah bacaan tersebut di tengah penduduk Syam dan mereka meninggalkan bacaan Imam Ibnu Amir. Menurutku hal itu disebabkan karomah yang dimiliki oleh Syu’bah.
Banyak sekali orang yang belajar Al-Qur’an kepada Imam Abu Amru. Di antara orang yang berguru secara langsung kepada beliau adalah: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Laitsi, Ahmad bin Musa al-Lu’lui, Ishaq bin Yusuf bin Ya’qub al-Azraq, Husain bin Ali al-Ja’fi, al Ashma’i, Abdul Harits bin Said, Yahya al-Yazidi dan lain sebagainya. Imam Muhammad bin al-Hasan bin Abi Sarah dan Sibawaihi turut juga meriwayatkan beberapa huruf beliau.
Imam Abu Amru mengajarkan Al-Qur’an kepada umat pada masa itu sampai beliau wafat pada tahun 154 H di kota Kufah. Abu Amru al-Asdi berkata: ketika imam Abu Amru wafat, aku mendatangi keuarganya dan bertakziyah atas wafatnya Imam Abu Amru. Pada saat itu aku bertemu dengan Yunus bin Habib, lalu dia berkata: kami bertakziyah atas wafatnya Abu Amru, dan kami tidak menemukan orang seperti dia sampai akhir zaman. Demi Allah seandainya dibagikan ilmu Abu Amru dan sifat zuhudnya kepada 100 orang manusia maka mereka semua akan menjadi ulama besar dan menjadi orang-orang yang zuhud. Demi Allah. Seandainya Rasulullah Saw melihatnya, maka beliau akan sangat gembira dengan apa yang dimiliki oleh Abu Amru.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Imam Abu Amru, seorang imam qira’at, ahli bahasa Arab, menguasai ilmu nahwu dan memahami dengan baik sejarah dan syairsyair masyarakat Arab. Dan semoga Allah memberikan pahala yang besar kepadanya berkat Al-Qur’an yang diajarkannya.
4. Imam Ibnu Amir
Beliau lahir pada tahun 8 H di sebuah desa yang bernama Dhi’ah atau Rihab. Hari ini daerah tersebut berlokasi di sebuah wilayah di provinsi al-Mufriq di Utara Yordania. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Amir bin Yazid bin Tamim al-Yashobi. Beliau adalah imam penduduk Syam dan menjadi pengajaran Al-Qur’an yang utama di daerah tersebut.
Pada masa itu wilayah Yordania dan sebagian negeri Syam masih berada di bawah kekuasan kerajaan Romawi. Dan sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 8 H telah terjadi bentrokan pertama antara tentara Islam dan pasukan Romawi yang dikenal dengan perang Mut’ah. Itulah momen pertama gerakan jihad yang dilakukan oleh tentara Islam di luar Jazirah Arab.
Setelah meluasnya pengaruh Islam sampai ke negeri Syam terutama setelah perang Yarmouk, dan berubahnya kota Damaskus menjadi salah satu kota yang disinari oleh cahaya Islam. Maka berdatanganlah kabilah-kabilah dari berbagai daerah ke kota tersebut untuk mencari penghidupan baru yang lebih menjanjikan di bawah naungan kekuasaan kaum muslimin. Salah seorang yang datang ke kota Damaskus tersebut adalah Imam Ibnu Amir yang datang bersama keluarganya. Pada saat itu Ibnu Amir berusia 7 tahun. Di kota terseut beliau ditakdirkan menuntut ilmu dari beberapa orang sahabat nabi yang merupakan guru- guru teladan. Di antara para sahabat nabi yang ditemui oleh Ibnu Amir adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Nu’man bin Basyir, Wailah bin al-Asqa, Fadhalah bin Ubaid dan Abu al-Darda’.
Beliau menguasai berbagai ilmu pengetahuan khususnya Al-Qur’an yang merupakan sumber dari ilmu pengetahuan. Al-Qur’an pada masa itu terdepan dari segenap ilmu lainnya. Siapa yang menguasainya dengan baik maka ia akan menjadi orang yang terpandang. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para sahabat Nabi: seseorang pada masa kami bila dapat menghafal surat alBaqarah dan surat al Imran, maka itulah orang yang paling baik. Maksudnya adalah orang yang walaupun hanya menghafal dua surat tersebut akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di tengah-tengah umat karena dianggap memiliki keutamaan dan kemampuan.
Imam Ibnu Amir adalah seorang pelajar yang sangat haus akan ilmu pengetahuan terutamaAl-Qur’anul Karim baik dari segi bacaannya, pemahaman dan pengamalannya. Oleh sebab itu beliau belajar Al-Qur’an secara langsung kepada Abu al-Darda’ al-Mughirah bin Abi Syihab alMakhzumi, Fadhalah bin Ubaid, sehingga beliau menjadi ketua dan imam dalam qira’at dan bacaan Al-Qur’an. dalam hal ini Imam Ibnu Mujahid berkata: penduduk Syam dan AlJazirah membaca Al-Qur’an dengan qira’at Ibnu Amir. Perkataan ini membuktikan tingginya kedudukan Ibnu Amir di mana bacaan yang diajarkannya menjadi pedoman bacaan Al-Qur’an umat Islam di wilayah Syam dan al Jazirah. Sedangkan Imam Ibnu al-Jazari berkata: bahwa penduduk Syam memakai bacaan Imam Ibnu Amir dalam membaca Al-Qur’an maupun sebagai bacaan shalat sampai tahun 500an hiijriyah.
Imam Ibnu Amir hidup dalam usia yang cukup lama di kota Damaskus di mana beliau mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu serta berdakwah. Beliau juga menduduki beberapa jabatan penting di kota Damaskus dan menjadi imam di masjid Jami’ Damaskus sampai beliau wafat. murid beliau, Yahya bin al-Harits alZimari berkata: Imam Ibnu Amir adalah ketua masjid Damaskus, di mana beliau tidak melihat sesuatu yang benilai bid’ah kecuali beliau mengganti dan merubahnya.
Beliau diangkat sebagai qadhi di kota Damaskus sesudah wafatnya Idris al-Khawlani. Beliau adalah seorang qadhi yang sangat disukai karane terkumpul pada pribadi beliau seluruh sifat-sifat kebaikan dan keutamaan yang memang dibutuhkan oleh seorang qadhi. Imam al-Ahwazi menyifatkan Imam Ibnu Amir sebagai berikut: Imam Ibnu Amir adalah seorang imam yang sangat alim, jujur terhadap segala sesuatu yang datang kepadanya, menjaga apa yang ia riwayatkan, yakin terhadap apa yang dijaganya, bijaksana dan mudah memahami, jujur terhadap apa yang ia sampaikan, beliau termasuk muslim yang paling utama dan tabi’in yang paling mulia, periwayat yang agung, tidak ada yang diragukan dari agama dan keyakinannya, tidak diragukan amanat yang dibebankan kepadanya, tidak pernah khianat terhadap apa yang ia riwayatkan, benar apa yang ia sampaikan dan ucapannya fashih, memiliki kemampuan yang hebat dan benar seluruh urusannya, terkenal amal ibadahnya, pemahamannya jadi rujukan, atsar yang ia riwayatkan tidak pernah melampaui batas dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kebaikan.
Inilah kesaksian dari Imam al-Ahwazi yang merupakan seorang alim dan qari yang besar layak untuk ditulis dengan tinta emas, karena ini adalah sebuah kesaksian dari seorang yang arif dan memahami hak- hak seorang ulama besar. Ini adalah sebuah kesaksian atas sebuah sisi kehidupan Imam Ibnu Amir dan akhlaknya. Dan selayaknya menjadi sebuah suri teladan dan cita-cita setiap orang.
Murid-murid yang belajar kepada Ibnu Amir sangat banyak. Mereka mendatanginya untuk mewarisi ilmu yang dimilikinya dan kemudian menyebarluaskannya ke tengahtengah manusia sehingga ilmu pengetahuan tersebar luas ke segala penjuru. Diantara muridnya adalah Yahya bin al Harits al-Zimari, Ismail bin Ubaidilah bin Abi al-Muhajir, Said bin Abdul Aziz, Khallad bin Yazid bin Sibbih al-Murri, dan Yazid bin Abi Malik. Semuanya meriwayatkan qira’at Ibnu Amir secara langsung.
Para murid Ibnu Amir tersebut kemudian menjadi ulama-ulama besar. Said bin Abdul Aziz menjadi mufti kota Damaskus pada masa pemerintahan bani Umayyah dan termasuk ulama yang mengamalkan ilmunya. Yahya bin al-Harits menjadi imam besar masjid al-Umawi dan menjadi syaikh Al-Qur’an di kota Damaskus sesudah Imam Ibnu Amir, dan beliau adalah orang yang tsiqah, alim dan memiliki banyak keutamaan.
Imam Ibnu Amir wafat di kota Damaskus pada hari Asyura tahun 118 H pada usia 110 tahun. Semoga Allah merahmatinya dan membalas setiap amal ibadahnya dan pengabdiannya kepada kaum muslimin dengan pahala yang besar dan berlipat ganda.
5. Imam ’Ashim
Nama beliau adalah ‘Ashim bin Bahdalah Abu al-Najud Abu Bakar al-Asdi al-Kufi al-Khannat, Syaikh qira’at di kota Kuffah dan salah satu imam qira’at tujuh. Beliau belajar AlQur’an kepada imam Zir bin Hubaisy, Abu Abdurrahman al-Sullami dan Abu Amru al-Syaibani.
Beliau memiliki murid yang sangat banyak, antara lain: Abban bin Taghlab, Abban bin Yazid al Athar, Ismail bin Majalid, al Hasan bin Shaleh, Hafsh bin Sulaiman, al-Hakam bin Zahir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Yazid, Hammad bin Abi Ziyad, Hammad bin Amru, Sulaiman bin Mahran al-A’masy, Salam bin Sulaiman Abu al-Munzir, Sahl bin Syuaib, Abu Bakar Syu’bah bin Ayyasy, Syaiban bin Muawiyah, al-Dahak bin Maimun, Ishmah bin Urwah, Amru bin Khalid, al-Mufaddal bin Muhammad, al-Mufaddal bin Shadaqah, Muhammad bin Raziq, Nu’aim bin Maisarah, Nua’im bin Yahya, dan lainnya.
Ada pula beberapa orang yang hanya sekedar meriwayatkan beberapa huruf dan qira’at dari beliau antara lain: Abu Amru al-Ala’, al-Khalil bin Ahmad, al-Harits bin Nabhan, Hamzah al-Zayyat, al-Hammad bin Salamah dan alHammad bin Zaid, al-Mughirah al-Dhabby, Muhammad bin Abdullah al-‘Azrami dan Harun bin Musa.
Pujian dan pandangan Ulama terhadap beliau.
Imam ‘Ashim adalah qari penduduk Kufah dan guru Al-Qur’an mereka setelah wafatnya Abu Abdurrahmanal Sullami. Beliau juga imam masjid Kufah yang terus berpegang tegas kepada bacaannya sampai hari ini. Bacaannya berpatokan kepada bacaan orang-orang sebelumnya dan tidak bertentangan dengan apa yang dibaca oleh kaum salaf sebelumnya.
Abu Ishaq al-Sabi’i berkata: aku tidak melihat seorang pun yang lebih pandai membaca Al-Qur’an melebihi Imam ‘Ashim. Yahya bin Adam berkata pula: Hasan bin Saleh berkata kepadaku aku tidak melihat seorang yang lebih fasih lisannya dari ‘Ashim. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: aku bertanya kepada ayahku tentang ‘Ashim: maka beliau berkata: ia adalah laki- laki yang shaleh, baik dan terpercaya. Lalu aku bertanya: qira’at siapa yang paling engkau sukai? Ayahku berkata: qira’at penduduk Madinah. Bila tidak, maka qira’at Imam ‘Ashim.
Imam Ibnu al Jazari berkata: Imam ‘Ashim dianggap tsiqah oleh Abu Zar’ah. Abu Hatim berkata: beliau adalah orang yang jujur dan hadis-hadisnya terdapat dalam kutub al sittah. Dalam diri beliau terkumpul kefasihan, keyakinan, kebebasan dan penguasaan ilmu tajwid. Dan Imam ‘Ashim adalah orang yang memiliki suara yang sangat indah ketika membaca Al-Qur’an.
Beliau juga meriwayatkan hadis Nabi Muhammad SAW dari Abu Ramtsah Rifa’ah bin Yastribi al-Tamimi, al Harits bin Hisan al-Bakri di mana keduanya juga merupakan sahabat beliau. Hadisnya dari Abu Ramtsah ditulis dalam musnad Imam Ahmad. Sedangkan hadis beliau dari al-Harits termaktub dalam kitab Abu Ubaid al-Qasim bin Salam.
Imam Abu Bakar bin Ayyasy berkata: ‘Ashim berkata kepadaku: tidak ada seorangpun yang membacakan satu huruf Al-Qur’an kecuali Abu Abdurrahman. Ia belajar kepada Utsman bin Affan dan membacakan Al-Qur’an kepada Ali bin Abi Thalib. ‘Ashim lalu berkata: lalu apa yang aku dapatkan dari Abu Abdurrahman aku bacakan kembali kepada Zir bin Hubaisy. Lalu Abu Bakar berkata kepada ‘Ashim: benar apa engkau lakukan itu wahai Abu Bakar. Zir bin Hubaisy membaca kepada Ali bin Abi Thalib dan Ali membaca kepada Rasulullah SAW.
Wafatnya Imam ‘Ashim. Abu Bakar bin Ayyasy berkata: aku pergi ke rumah ‘Ashim sedangkan beliau menjelang kewafatannya. Maka aku mendengarnya mengulang- ulangi ayat Al-Qur’an seolah- olah sedang shalat. Ayat tersebut adalah: tsumma ruddu ilallahi maulahumul haq. (surat al An’am: 62). Beliau wafat pada akhir tahun 127 H di kota Kufah, ada pula yang mengatakan di kota samawah ketika akan menuju ke daerah Syam. Dan dimakamkan di wilayah tersebut.
6. Imam Hamzah
Nama lengkap beliau adalah Abu ‘Imarah Hamzah bin Habib bin ‘Imarah al Zayyat al Kufi al-Tamimi. Imam Sufyan al Tsauri berkata: Imam Hamzah sangat menguasai AlQur’an dan ilmu Faraidh. Beliau juga berkata: Imam Hamzah tidak membaca satu huruf Al-Qur’an kecuali dengan jalur atsar dan riwayat. Para ulama pada masanya menyaksikan keutamaan dan ilmu yang dimilikinya. Beliau juga seorang yang zuhud dan wara’. Banyak sekali orang yang belajar kepada beliau sehingga tidak terhitung jumlahnya.
Imam Hamzah lahir pada tahun 80 H dan beliau masih berada dalam zaman kehidupan sahabat Nabi. Dan sangat dimungkinkan beliau pernah bertemu dan melihat sebagian mereka. Beliau tumbuh dalam masa yang sangat baik itu dan beliau besar di kota Kuffah.
Imam Hamzah belajar kepada ulama qurra’ di kota Kuffah. Diantara guru beliau adalah Himran bin A’yun, Abu Ishaq al-Sabi’i, al-A’masy, Ja’far al Shadiq, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, Mughirah bin Muqsim, dan sebagainya. Kota Kuffah pada masa itu adalah sebuah kota besar yang menjadi pusat peradaban Islam. Ia merupakan pusat ilmu dan pemikiran brilian serta pusat sekolah dan pendidikan. Dari kota inilah dikirim tentara- tentara Islam yang siap membebaskan wilayah-wilayah yang jauh dengan semangat jihad, dan membebaskan manusia dari kegelapan kepada cahaya keimanan.
Imam Hamzah juga dikenal dengan sebutan al Zayyat. Hal ini disebabkan bahwa beliau adalah seorang peniaga di mana beliau membawa minyak dari kota Kufah ke Hulwan, kemudian membawa keju dan kelapa dari Hulwan ke kota Kuffah. Pekerjaannya sebagai peniaga ini tidak mengganggu kesenangannya belajar dan mengajarkan ilmu. Seorang alim selalu menyebarluaskan ilmunya di manapun ia berada. Semakin luas pergaulannya dengan manusia maka semakin kuat keinginannya untuk menyebarluaskan ilmu di antara mereka. Karena ilmu adalah amanah dan akan dipertanggung jawabkan. Seorang alim akan di tanya tentang ilmunya apa yang telah ia lakukan dengan ilmu yang mereka miliki.
Banyak pujian yang disampaikan ulama terhadap Imam Hamzah. Para ulama mengenalnya sebagai sosok yang alim, berilmu, zuhud dan wara’. Maka banyak pujian yang ditujukan kepada beliau. Maka kami merangkum dari beberapa kitab tentang pujian dan sanjungan yang diberikan ulama kepada beliau antara lain:
– Imam Abu Hanifah berkata kepada Hamzah: ada dua hal yang kami tidak bisa mengalahkan engkau yaitu AlQur’an dan ilmu Faraidh.
– Imam al Hamawi mengatakan dalam mu’jamnya tentang Hamzah: ia adalah pribadi yang jujur, wara’ dan bertaqwa. Ia menjadi imam qira’at setalah ‘Ashim dan alA’masy. Beliau adalah imam yang memiliki hujjah dan tsiqah serta sangat ridho dengan kitab Allah (Al-Qur’an), memahami, dengan baik ilmu faraidh, seorang penghafal hadis, taat beribadah, zuhud, khusyu’ dan tunduk kepada Allah serta wara’.
Masyarakat pada masa itu telah mendengar dan mengetahui kezuhudan dan sifat wara’ yang beliau miliki sehingga mereka berkeyakinan bahwa belliau adalah seorang wali Allah dan mempunyai karomah. Hal ini dikatakan oleh Imam Ibnu Fudhail: aku mengira, bahwa Allah tidak akan mengangkat bala’ (bencana) bagi masyarakat Kuffah, kecuali karena keberadaan Imam Hamzah.
Para pelajar berlomba-lomba mengambil dan mempelajari bacaan Al-Qur’an beliau. Ini disebabkan kehatihatian dan ketelitian Imam Hamzah. Guru beliau imam al A’masy bila melihat Imam Hamzah menghadap kepadanya dalam belajar, maka beliau akan berkata kepada orang yang ada di sekelilingnya: inilah tinta Al-Qur’an itu. Inilah kesaksian guru terhadap muridnya. Guru tersebut adalah Imam al-A’masy, seorang yang alim lagi hafiz, sedangkan murid adalah Imam Hamzah. Inilah pengakuan akan kemampuan yang dimiliki Imam Hamzah terutama dalam bidang qira’at.
Imam Hamzah membacakan Al-Qur’an kepada umat sampai mereka pulang ke rumah masing-masing. Beliau sengaja berdiam dalam waktu yang lama dalam mengajarkan Al-Qur’an. lalu beliau shalat empat rakaat. Lalu kemudian shalat antara shalat zuhur dan asar, atau shalat antara maghrib dengan Isya. Ini menunjukkan kesabaran beliau dalam mengajarkan Al-Qur’an dan menunjukkan banyaknya ibadah yang beliau lakukan. Beliau sangat menyukai ketaatan dan amal soleh. Maka benarlah Imam Syatibi yang berkata: Imam Hamzah adalah seorang yang bertakwa dan mempunyai sifat wara’, imam yang sabar dan membaca AlQur’an dengan tartil.
Banyak sekali murid yang pernah belajar kepada beliau, antara lain: Ibrahi bin Adham, Ibrahim bin Thu’mah, Ishaq bin Yusuf al Azraq, Bakr bin Abdurrahman, Ja’far bin Muhammad al-Khasykani, Hajjaj bin Muhammad, Khalid bin Yazid al-Thabib, Khallad bin Khalid al-Ahwal, Abu alAhwash Salam bin Salim, Sufyan al-Tsauri, Syuaib bin Harb, Ali bin Hamzah al-Kisa’i, Yahya bin Ziyad al-Farra’ Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi dan lainnya.
Akhir hidup Imam Hamzah banyak diisi dengan membaca Al-Qur’an dan mengajarkan Al-Qur’an sampai beliau bertemu dengan tuhannya dalam keadaan di ridhai. Beliau wafat pada tahun 156 H di kota Hulwan. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang seluas-luasnya dan memberikan ganjaran besar terhadap pengabdian beliau kepada Al-Qur’an.
7. Imam Al-Kisa’i
Nama lengkap beliau adalah Abu Hasan Al-Kisa’i Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Bahman bin Fairus al-Azdi. Beliau berasal dari keturunan Persia yang berdiam di wilayah Irak. Nama Al-Kisa’i dinisbahkan kepada pakaian ihram yang dipakainya ketika berihram. Al-Kisa’i mengambil bacaan Al-Qur’an secara langsung kepada Imam Hamzah al-Zayyat. Beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak empat kali di hadapan Imam Hamzah. Beliau juga belajar kepada Muhammad bin Abi Laila, dan Isa bin Umar al-Hamdani. Beliau juga meriwayatkan beberapa huruf dari Abu Bakar bin Ayyasy, Ismail dan Ya’qub bin Ja’far dari Imam Nafi’, dari Abdurrahman bin Abi Hammad, Abu Haiwah Syuraih bin Yazid, al-Mufaddal bin Muhammad alDhabiyy, Zaidah bin Qudamah dan al-A’masy, Muhammad bin al-Hasan bin Abi Sarah dan Qutaibah bin Mahran. Beliau kemudian pergi ke kota Basrah lalu mempelajari bahasa Arab dari al-Khalil bin Ahmad.
Murid-murid Al-Kisa’i sangat banyak. Antara lain: Ibrahim bin Zazan, Ibrahim bin al-Harisy, Ahmad bin Jabir, Ahmad bin Abu Suraih, Ahmad bin Zahl, Ahmad bin Manshur al-Baghdadi, Ahmad bin Washil, Ismail bin Maddan, Hafsh bin Umar al-Duri, Hamdawih bin Maimun, Hamid bin Rabi’ al-Khazzaz, Zakaria bin Wardan, Sarij bin Yunus, Surah bin al-Mubarak, Abu Hamdun al-Thayyib bin Ismail, Abdurrahman bin Waqid, Abdurrahim bin Habib, Abdul Quddus bin Abdul Majid, Abdullah bin Ahmad Zakwan, Ubaidillah bin Musa, Ady bin Ziyad, Ali bin ‘Ashim, Umar bin Hafsh al Masjidi, Isa bin Sulaiman, al Fadl bin Ibrahim, Furik bin Sibawaih, Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, Qutaibah min Mahran, al-Laits bin Khalid, Muhammad bin Sufyan, Muhammad bin Sinan, Muhammad bin Washil, alMuthalib bin Abdurrahman, al Mughirah bin Syuaib, Abu Taubah Maimun bin Hafsh, Nushair bin Yusuf, Abu Iyas Harun bin Al-Kisa’i (ia adalah anak al-Kisa’i sendiri), Harun bin Isa, Harun bin Yazid, Hasyim bin Abdul Aziz al Barbari, Yahya bin Adam, dan Yahya bin Ziyad al-Khawarizmi. Inilah murid-murid al-Kisa’i yang banyak meriwayatkan qira’at dari dirinya.
Sedangkan yang sekedar belajar kepada beliau antara lain: Ishaq bin Israil, Hajib bin al-Walid, Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah, Khalaf bin Hisyam al-Bazzaz, Zakariya bin Yahya al-Anmathi, Abu Haiwah Syuraih bin Yazid, Shaleh al Naqith, Abdul Wahin bin Maisarah al-Quraisy, Ali bin Khashnam, Umar bin Naim bin Maisarah, Urwah bin Muhammad al Asdi, Aun bin al-Hakam, Muhammad bin Zuraiq, Muhammad bin Sa’dan, Muhammad bin Abdullah bin Yazid al Hadhrami, Muhammad bin Umar al Rumi, Muhammad bin al-Mughirah, Muhammad bin Yazid alRifai, Yahya bin Ziyad al-Farra, Ya’qub al-Dauraqi, dan Ya’qub al-Hadhrami dan lain sebagainya.
Nama Qutaibah bin Mahran tertulis sebagai guru alKisa’i dan juga sebagai muridnya. Hal ini disebabkan oleh Qutaibah pernah berkata: aku membaca Al-Qur’an kepada imam al-Kisa’i, dan Al-Kisa’i juga membaca Al-Qur’an kepadaku. Qutaibah telah berteman dengan Al-Kisa’i selama 50 tahun dan selalu bersama pada masa tuanya dan meriwayatkan daripadanya.
Qutaibah juga berkata: aku membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir surat kepada Al-Kisa’i begitu juga sebaliknya. Ia juga berkata: aku telah berteman dengan AlKisa’i selama 51 tahun. Al-Kisa’i membaca Al-Qur’an kepadaku dengan bacaan penduduk Madinah.
Pujian dan Pandangan Ulama terhadap Dirinya
Yahya bin Main berkata: aku tidak pernah melihat dengan dua matu ini orang yang paling bagus lahjahnya dari Al-Kisa’i. Imam al Syafi’i berkata: siapa yang ingin mendalami ilmu nahwu maka tempatnya adalah imam Al-Kisa’i.
Sedangkan Abu Ubaid berkata: Imam Al-Kisa’i memiliki banyak pilihan dalam qira’at. Beliau mengambil sebagian qira’at Imam Hamzah dan meninggalkan sebagian lainnya. Ia termasuk ahli qira’at. Ia tidak berteman dengan siapapun yang lebih luruh dan kuat hafalannya daripada Al-Kisa’i.
Ibnu Mujahid berkata: ia memilih qira’at Hamzah dan qira’at lainnya. Qira’atnya sederhana dan tidak keluar dari riwayat para imam qira’at sebelumnya. Ia adalah imam qira’at pada masanya.
Abu Bakar al-Anbari berkata: telah terkumpul beberapa hal pada diri Al-Kisa’i. ia adalah orang yang paling menguasai ilmu Nahwu, paling memahami kata-kata Gharib, orang yang paling mahir dalam membaca Al-Qur’an. orangorang banyak yang mengambil bacaan Al-Qur’an dari dirinya, mereka berkumpul di hadapannya dan ia duduk di atas kursi. Lalu ia membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir, sedangkan mereka mendengarkan sampai kepada masalah waqaf dan ibtida’.
Al Andarabi berkata: Al-Kisa’i merupakan qari penduduk Kuffah. Ia juga imam yang mereka pegang bacaan Al-Qur’an-annya, dan mereka jadikan pedoman setelah Imam Hamzah. Beliau memiliki banyak riwayat hadis dan ilmu dan sangat memahami qira’at yang berkembang sebelumnya.
Imam Al-Kisa’i berteman dengan Khalifah Harun alRasyid dimana Harun al-Rasyid sangat menghormati dan memuliakannya. Ia juga belajar Al-Qur’an kepada Al-Kisa’i dan menyempurnakan bacaannhya dan bertanya tentang ilmu.
Imam Al-Kisa’i selalu berpergian di beberapa wilayah kekuasaan Islam dan mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat. Ibnu Zakwan berkata: aku menetap bersama Imam Al-Kisa’i selama empat bulan dan aku membacakan Al-Qur’an di hadapan beberapa kali. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Kisa’i pernah menetap di Syam dan bermukim sebentar di kota tersebut. Imam Ibnu al-Jazari berkata: aku menemukan bukti bahwa Imam Al-Kisa’i pernah bermukim di Syam dan mengajarkan Al-Qur’an di masjid Damaskus.
Imam Al-Kisa’i menulis sejumlah buku, antara lain;
- Ma’ani Al-Qur’an
- Al-Qira’at
- Al-Ashghar
- Al-Nahwu
- Al-Hija’
- Maqthu Al-Qur’an wa Mausuluhu
- Al-Mashadir – Al-Huruf al Ha’at – Asy’ar.
Imam Al-Kisa’i wafat pada tahun 189 H di sebuah desa bernama Aranbuyah di wilayah Ray, di mana saat itu sedang menemani Harun al Rasyid saat itu Muhammad bin al Hasan al Syaibani sahabat Imam Abu Hanifah. Maka Harun al Rasyid sangat bersedih dengan hal itu. Beliau berkata: kami telah mengubuhkan ilmu fiqh dan ilmu nahwu di kota Ray. Pada saat itu Al-Kisa’i berusia 70 tahun.